Senin, 15 Juli 2013

Dampak Kompetensi Key user ERP terhadap Kinerja Inovasi dan Kinerja Kualitas Guna Meningkatkan Kinerja Organisasi

Pendahuluan
Manajemen proyek adalah kombinasi personil, kebijakan, prosedur dan sistem (manual atau dengan komputer), yang memungkinkan terlaksananya berbagai kegiatan merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan biaya, jadwal, mutu, dan kinerja proyek. Manajemen proyek terdiri dari subsistem organisasi dan pengelolaan hubungan antar manusia, serta pengelolaan aspek teknik (nonmanusia).
Manajemen organisasi dan hubungan antar manusia bertujuan untuk memanfaatkan potensi kemampuan personil secara optimal, misalnya dengan motivasi, pengarahan, pembagian kerja, dan usaha nonteknik lainnya.
Penyelesaian sebuah proyek sangat bergantung pada kemampuan manajer proyek dalam memilih proyek yang akan dikerjakan, memilih strategi dalam menyelesaikan proyek, memilih metoda kerja untuk menyelesaikan proyek, memilih sistem pengukuran untuk memantau proyek serta bagaimana untuk mengevaluasi suatu proyek, dan bagaimana sebuah proyek dinyatakan berakhir.
Penerapan teknologi ERP pada organisasi umumnya dipandang sebagai suatu hal yang sangat sulit dan kompleks sehingga menyebabkan manajemen puncak dan user enggan untuk mengimplementasikan ERP.
Fenomena yang menarik saat implementasi ERP di organisasi, bahwa keberhasilan ditentukan oleh key user (tim implementasi proyek) yang didukung oleh manajemen puncak dan user.
Kompetensi key user ERP akan menentukan keberhasilan proyek ERP yang terlihat dari kualitas proyek atau implementasi ERP, jadwal pelaksanaan implementasi ERP dan anggaran yang digunakan dalam implementasi. Proses implementasi ERP pada perusahaan dengan membuat sistem menjadi satu dan terintegrasi antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Akibatnya semakin lama implementasi ERP akan berakibat pada peningkatan biaya yang relatif besar bagi perusahaan.
Implementasi program ERP terdapat dua tipe pengguna yaitu key user dan end user, dimana key user merupakan orang yang berada dalam tim proyek, dan dapat melakukan perubahan secara langsung pada prosedur kerja di bagian/departemennya.
ERP merupakan cara untuk mengelola sumber daya perusahaan dengan menggunakan teknologi informasi. Program ERP sangat membantu perusahaan yang memiliki bisnis proses yang luas dengan menggunakan database dan reporting tools manajemen yang terbagi. Business processes merupakan sekelompok aktivitas yang memerlukan satu jenis atau lebih input yang akan menghasilkan output sebagai value untuk konsumen. Software ERP mendukung pengoperasian yang efisien dari business processes dengan cara mengintegrasikan aktivitasaktivitas dari keseluruhan bisnis termasuk sales, marketing, manufacturing, logistic, accounting, dan staffing.


Kajian Teori
Sistem Project management telah berkembang menjadi suatu bidang yang penggunaannya terus meningkat dan digunakan oleh banyak organisasi untuk mencapai tujuan bisnisnya. Kunci keberhasilan dari suatu proyek adalah memilih manajer proyek yang tepat.
Implementasi ERP merupakan jenis proyek yang digunakan untuk memudahkan manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan strategis perusahaan dengan menyediakan data-data internal perusahaan dengan mudah dan cepat.
Implementasi ERP memerlukan tim proyek yang mampu mengubah proses bisnis perusahaan atau kusomisasi. Proses kustomisasi software dan hardware perusahaan juga mengeluarkan biaya yang relatif besar sehingga dapat menghambat implementasi ERP. Proses penyesuaian antara product ERP dengan kebutuhan perusahaan perlu diketahui kemampuan sumber daya perusahaan.
Kerangka Pemikiran dan Konsep Penelitian
Dalam mengeksplorasi hubungan antar pelatihan kompetensi project management dengan persepsi dari prestasi di tempat kerja, maka yang pertama sekali perlu dilakukan adalah mendefinisikan istilah kompetensi dan turunannya dan kemudian melihat konsep kompetensi itu ke dalam bagian-bagian yang dapat diukur terhadap standar sebagai basis untuk analisa.
Metode Penelitian
Penelitian ini mengambil sumber data dari perusahaan-perusahaan yang telah terdaftar di Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur (DISPERINDAG) pada wilayah tingkat Kotamadya Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Gresik.
Penelitian ini melibatkan 324 perushaan manufaktur yang terdiri atas: 181 perusahaan penanaman modal dalam negeri dan 143 perusahaan penanaman modal asing. Di antara perusahaan tersebut, 143 perusahaan telah menerapkan ERP lebih dari 6 bulan. Ke-143 perusahaan sudah menerapkan ERP berupa SAP, Oracle, Baan, Peoplesoft, JD Edwards, MFG Pro.
Penentuan sampel sebanyak 50 perusahaan dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan data ke perusahaan digunakan kuisioner. Setiap kuisioner hanya diisi oleh salah satu key users di perusahaan sehingga satu kuisioner untuk satu perusahaan. Skala pengukuran digunakan adalah skala Likert.
Untuk menguji hipotesis pertama sampai dengan hipotesis yang kesepuluh, dan menghasilkan suatu model yang layak (fit), maka analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan proses perhitungan dibantu program aplikasi software Smart PLS. Alasan memakai model terdapat struktur hubungan berjenjang antar variabel, dan software ini sesuai kebutuhan penelitian.
Model struktural atau inner model dievaluasi dengan melihat persentase varian yang dijelaskan yaitu dengan melihat R2 (R-square variabel eksogen) untuk konstruk laten dependen dengan menggunakan ukuran Stone-Geisser Q Square test dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat prosedur bootstrapping.
Hasil dan Pembahasan
Responden penelitian adalah para karyawan perusahaan yang memiliki kedudukan minimal sebagai staff sampai dengan manajemen perusahaan yang menentukan kebijakan terhadap implementasi proyek pada perusahaan. Responden yang mengisi kuisioner merupakan bagi mereka yang pernah terlibat pada proyek organisasi yang telah ditetapkan. Responden yang tERPilih menjadi dari berbagai departemen yang terkait dalam pelaksanaan proyek ERP di perusahaan manufaktur yakni bagian marketing (pemasaran), produksi, PPIC (Planning Production and Inventory Control), accounting, finance, material management (purchasing), QA (Quality Asurance), industrial engineering, dan HRD.
Penyebaran kuisioner sebanyak 80 kuisioner dan kembali 74 kuisioner serta dapat diolah lebih lanjut 71 kuisioner.
Karakteristik Responden
Karakterisitik responden telah terwakili oleh semua departemen, hal ini menunjukkan tingkat pelaksanaan dan pengerjaan proyek ERP telah dilaksanakan hampir pada semua departemen untuk membantu proses perusahaan yang efisien dan efektif. Karakteristik responden ditinjau berdasarkan jabatan level middle management up sebanyak 51 responden dan dengan total sebesar 72%, berarti jabatan tersebut merupakan penanggung jawab terhadap keberhasilan ERP perusahaan.
Pengujian Hipotesis Penelitian
Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan pengujian inner model yakni variabel laten eksogen terhadap endogen dan variabel laten endogen terhadap endogen dengan melihat hasil inner weight.
Hipotesa H1a yang berarti tidak terdapat pengaruh Knowledge & skill pada quality performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP dengan level signifikan 0,1. Pengujian hipotesis berikutnya dilakukan seperti hipotesis pertama maka dihasilkan sebagai berikut: H1b di tolak berarti tidak terdapat pengaruh Knowledge & skill terhadap percepatan dan peningkatan innovation performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP; H2a diterima berarti Personality Charatristics berpengaruh pada peningkatan quality performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP; H2b diterima berarti Personality Charatristics mempunyai pengaruh untuk mempercepat dan meningkatkan innovation performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP. H3a diterima berarti Demonstrable Performance berpengaruh memberi peningkatan pada quality performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP. H3b diterima berarti Demonstrable Performance mempunyai pengaruh untuk mempercepat dan meningkatkan innovation performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP.
H4 ditolak berarti innovation performance memberi pengaruh dalam peningkatan quality performance yang mempunyai pengaruh secara tak langsung dalam peningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP.
H5 diterima berarti innovation performance berpengaruh secara langsung terhadap peningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP dan hipotesis terakhir H6 diterima berarti quality performance berpengaruh secara langsung terhadap peningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP.
Pembahasan
Hasil pengolahan data pada penelitian ini tidak terdapat pengaruh Knowledge & skill pada quality performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP dan tidak terdapat pengaruh Knowledge & skill terhadap percepatan dan peningkatan innovation performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP.
Hal ini disebabkan bahwa pengetahuan dan keahlian key user ketika implementasi ERP tidak cukup mampu dalam pelaksanaannya sehingga perusahaan selalu mengandalkan para konsultan yang ada pada perusahaan.
Pada pelaksanaan implementasi ERP key user sebatas melakukan segala sesuatu yang diminta oleh konsultan sehingga berbagi pengetahuan antara konsultan dengan key user tidak jelas.
Penelitian ini mendukung penelitian Park et al. [14] menyatakan bahwa bila tidak terjadi berbagi pengetahuan antar key user di perusahaan maka akan sering timbul komunikasi yang tidak efektif dalam mendesain proses dan menyediakan data maka muncul keengganan para anggota tim untuk mengimplementasikan ERP karena keterbatasan kemampuan.
Personality Charatristics berpengaruh pada peningkatan quality performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP dan Personality Charatristics mempunyai pengaruh untuk mempercepat dan meningkatkan innovation performance dalam meningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP.
Innovation performance berpengaruh secara langsung terhadap peningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP dan Quality performance berpengaruh secara langsung terhadap peningkatkan kinerja perusahaan pada implementasi teknologi ERP. Hal ini disebabkan bahwa implementasi teknologi ERP merupakan implementasi teknologi baru bagi perusahaan untuk mengintegrasikan departemen-departemen pada perusahaan sehingga dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat bagi manajemen.
Implementasi ERP yang berhasil dapat meningkatkan kinerja perusahaan diantaranya peningkatan akurasi informasi antar departemen di perusahaan, respon terhadap pelanggan yang lebih cepat, pengambilan keputusan yang lebih tepat dan penggunaan sumber daya yang lebih baik. Peningkatan kinerja perusahaan dipengaruhi oleh keunggulan software dan hardware ERP perusahaan dan dapat menyediakan informasi data akurat, cepat dan lengkap melalui integrasi data.
Kesimpulan
      Kemampuan dan keahlian para key user di perusahaan khususnya kepala departemen belum cukup kuat untuk menghasilkan innovation perform ance dan quality performance. Namun karakteristik personal yang dimiliki para key user ERP di perusahaan sudah memberikan antusiasme yang baik dan semangat kerja yang tangguh sehingga dapat memberikan peningkatan pada innovation performance dan quality performance
      Dari Demonstrable Performance key user ERP ternyata mampu meningkatkan innovation performance dan quality performance dalam implementasi teknologi ERP. Peningkatan innovation performance dan quality performance berdampak secara langsung pada peningkatan kinerja perusahaan khususnya dalam peningkatan akurasi informasi antar departemen di perusahaan, respon terhadap pelanggan yang lebih cepat, pengambilan keputusan yang lebih tepat dan penggunaan sumber daya yang lebih baik.


Sumber : http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/ind/article/view/18708

TEKNOLOGI BETON RAMAH LINGKUNGAN

Dalam milenium ketiga ini terdapat 3 bahan struktur bangunan yang utama, yaitu kayu, baja dan beton. Dari ketiganya yang paling banyak dijumpai adalah beton. Mulai dari pipa, tiang listrik, tiang pancang, fondasi, bendungan, jembatan, gelanggang olah-raga sampai gedung pencakar langit. Bahkan kota-kota besar yang penuh sesak dengan bangunan pun kadang disebut sebagai hutan beton. Sebagai pembanding rasanya jarang terdengar istilah hutan baja; sedangkan hutan kayu justru menunjuk pada yang masih alami.

Pembangunan infrastruktur saat ini bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainable development) untuk mencapai kesejahteraan manusia. Dalam pembangunan infrastrukstur, pelaku industri konstruksi berperan penting untuk tetap menjaga keseimbangan lingkungan (eco-balance) dalam meraih hasil pembangunan. Industri konstruksi yang menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan sangat memerlukan teknologi beton ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Konsep bangunan hijau (green building) yang ramah lingkungan saat ini sedang gencar-gencarnya berkembang di dunia konstruksi. Perkembangan berikutnya tidak sekedar berupa konsep, tapi sudah dan telah dibuat pedoman dan aturan perencanaan, pelaksanaan dan operasional bangunan yang betul-betul memperhatikan kondisi lingkungan dan dampak terhadap lingkungan yang timbul.

Salah satu bagian penting dalam konsep bangunan hijau adalah penggunaan material-material konstruksi yang ramah lingkungan. Dimana material konstruksi tersebut diambil, diproduksi, digunakan dan dirawat dengan seminimal mungkin berkontribusi pada kerusakan lingkungan.

Seperti halnya dengan material beton yang dewasa ini banyak digunakan pada hampir semua bangunan yang didirikan. Beton tersusun atas material semen, pasir, kerikil, dan air, yang terkadang juga diberikan bahan-bahan tambah lainnya untuk mencapai performa beton yang diinginkan.

Material semen, walaupun dalam beton digunakan sekitar 7%-15%, ternyata untuk menghasilkan semen digunakan energi yang cukup besar dan limbah yang melimpah juga, sehingga akan sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan.

Hasil kajian Neville, Davidovits dan Mehta, yang berkaitan dengan pengaruh penggunaan semen terhadap lingkungan, terdapat beberapa kelemahan yakni : (1) kurang efisien dalam pemakaian bahan mentah/raw material, karena dalam pembuatan 1 ton klinker OPC dibutuhkan ± 1.7 ton raw material, (2) kebutuhan energi yang besar (dibutuhkan pemanasan pada tungku pembakar hingga ± 1450OC) untuk mendapatkan klinker, (3) kurang ramah lingkungan karena produksinya mengeluarkan emisi gas CO2 yang besar (produksi 1 ton klinker OPC menghasilkan 1 ton CO2), (4) memiliki kerentanan yang tinggi terhadap masalah durabilitas/ketahanan karena produk hidrasi semen OPC menghasilkan mineral Ca(OH)2 yang mudah terlarut, dan (5) harga semakin mahal.

Sedangkan penggunaan material agregat kerikil dan pasir, yang merupakan bahan penyusun utama beton, sekitar 80%, apabila penambangannya tidak terkendali dan serampangan, tentu akan menimbulkan degradasi lingkungan yang cukup besar.

Oleh karena itu, saat ini perlu dipikirkan penggunaan material penyusun beton yang dibuat dengan konsep ramah lingkungan. Atau diupayakan material lain yang mempunyai karakteristik, performa  dan kekuatan yang menyamai material beton tapi juga ramah lingkungan.

Menurut The Institution of Structural Engineers/ISE, 1999, pembuatan material penyusun beton yang ramah lingkungan ini dapat dilakukan dengan mewujudkan 3 (tiga) usaha kelangsungan dan konservasi lingkungan, yaitu: (1) pengurangan emisi gas rumah kaca (terbesar adalah CO2), (2) efisiensi energi dan material dasar,  (3) penggunaan material buangan/waste, dan dan (4) pengurangan efek yang mengganggu kesehatan/keselamatan pada pengguna konstruksi, baik yang timbul selama proses konstruksi ataupun yang timbul selama operasi bangunan, dengan menggunakan Konsep 4R (Reduce, Refurbish, Reuse and Recycle).

Material beton yang bahan bakunya memenuhi karakteristik tersebut dapat dikatakan sebagai material beton yang ramah lingkungan (green concrete) ataupun yang lebih ramah lingkungan (greener concrete).

Setiap material yang bersumber dari alam mempunyai profil ekologis masing-masing, dari saat pengambilan di alam hingga digunakan dan perawatannya. Profil ekologis ini akan sangat menentukan apakah material tersebut dalam katergori ramah lingkungan atau tidak. Beberapa parameter profil ekologis adalah apakah material tersebut berdampak pada pengundulan hutan (deforestation), mereduksi sumber daya tanah, konsumsi energinya, konsumsi airnya dan besar kecilnya limbah yang dihasilkan.

Dari gambaran di atas, ternyata memang material beton masih mempunyai profil ekologis yang dapat mengancam lingkungan. Sehingga diperlukan upaya-upaya nyata untuk mengembangkan beton yang ramah lingkungan.

Diantara upaya itu adalah dengan mereduksi penggunaan semen sebagai bahan pengikat beton, dengan melakukan pengkajian dan pemanfaatan material lain seperti fly ash, hulk ash, abu ampas tebu, metakaolin, silika fume sebagai pozzolan yang dapat mengurangi sebagian penggunaan semen. Mengembangkan rancang campur beton mutu tinggi, penggunaan material daur ulang, material buatan dan limbah industri seperti tailing, bottom ash, feronikel dan gelas sebagai agregat.

Saat ini juga telah dikembangkan bacteria-based self healing concrete atau beton yang dapat memperbaiki sendiri dengan memanfaatkan bakteri, dan material pengganti semen sebagai bahan dasar pengikat beton seperti alkali activated material dan geopolymer yakni material yang dibentuk dengan menggunakan aktivasi alkali pada material dasar yang kaya silika-alumina sebagai precursor.

Banyak produk beton yang terdiri dari berbagai material salah satunya Hebel. Produk Hebel tidak mengandung bahan-bahan yang beracun maupun berbahaya. Material yang digunakan tidak dapat dijadikan tempat tinggal bagi kutu atau serangga dan hewan sejenis lainnya. Dan massa yang rendah mengakibatkan energi bunyi yang memantul dan merayap di permukaan beton ringan Hebel tidak diteruskan dengan baik. Sehingga dinding dapat meredam kebisingan dan kenyamanan penghuni terjaga.

Keberlanjutan teknologi beton tidak lepas dari upaya mengedepankan potensi lokal untuk kepentingan kemajuan ilmu dan teknologi serta pencapaian kesejahteraan. Potensi lokal yang sangat berperan dalam teknologi beton adalah material lokal yang dalam hal ini berarti diproduksi di dalam negeri, berasal dari dalam negeri, serta memiliki kandungan material yang berasal dari negeri. Potensi material lokal selayaknya terus digali dan ditingkatkan agar lebih berdaya bagi masyarakat luas. Untuk memperoleh teknologi beton ramah lingkungan yang berkelanjutan, maka rangkaian penelitian dalam Hibah Kompetensi dilakukan dengan juga mengedepankan pemanfaatan material lokal.

Pembangunan berkelanjutan adalah bentuk gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang bertanggung jawab pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, berkaitan erat dengan lingkungan ( Environmental sustainable ), ekonomi ( economic sustainable ) dan social ( social sustainable ). Melakukan prinsip-prinsip Sustainable design dan continuously construction dengan memperhatikan low-impact materials,energy efficiency, quality and durability, design for reuse and recycling, biomimicry, service substitution dan renewability.

Keterpaduan dalam menggunakan sumber daya alam dan buatan dengan menitikberatkan pada perlindungan konstruksi berkelanjutan dan pencegahan dampak negatip terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab pelaku-pelaku dunia industri pembangunan, juga sebagai manusia yang bertanggung jawab pada penggunaan sumber daya alam. Pembangunan berkelanjutan juga tidak cukup hanya sustain, tapi juga harus improving ( Roseland- Sustainable communities ).

Sumber :
         -       http://eprints.unsri.ac.id/127/1/Pages_from_PROSIDING_AVOER_2011-22.pdf