Dalam
milenium ketiga ini terdapat 3 bahan struktur bangunan yang utama, yaitu kayu,
baja dan beton. Dari ketiganya yang paling banyak dijumpai adalah beton. Mulai
dari pipa, tiang listrik, tiang pancang, fondasi, bendungan, jembatan,
gelanggang olah-raga sampai gedung pencakar langit. Bahkan kota-kota besar yang
penuh sesak dengan bangunan pun kadang disebut sebagai hutan beton. Sebagai pembanding rasanya jarang terdengar istilah hutan baja; sedangkan hutan kayu justru menunjuk pada yang
masih alami.
Pembangunan
infrastruktur saat ini bertujuan mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainable development) untuk mencapai
kesejahteraan manusia. Dalam pembangunan infrastrukstur, pelaku industri
konstruksi berperan penting untuk tetap menjaga keseimbangan lingkungan (eco-balance) dalam meraih hasil
pembangunan. Industri konstruksi yang menjaga keseimbangan lingkungan dan
mendukung pembangunan berkelanjutan sangat memerlukan teknologi beton ramah
lingkungan yang berkelanjutan.
Konsep
bangunan hijau (green building) yang
ramah lingkungan saat ini sedang gencar-gencarnya berkembang di dunia
konstruksi. Perkembangan berikutnya tidak sekedar berupa konsep, tapi sudah dan
telah dibuat pedoman dan aturan perencanaan, pelaksanaan dan operasional
bangunan yang betul-betul memperhatikan kondisi lingkungan dan dampak terhadap
lingkungan yang timbul.
Salah
satu bagian penting dalam konsep bangunan hijau adalah penggunaan
material-material konstruksi yang ramah lingkungan. Dimana material konstruksi
tersebut diambil, diproduksi, digunakan dan dirawat dengan seminimal mungkin
berkontribusi pada kerusakan lingkungan.
Seperti
halnya dengan material beton yang dewasa ini banyak digunakan pada hampir semua
bangunan yang didirikan. Beton tersusun atas material semen, pasir, kerikil,
dan air, yang terkadang juga diberikan bahan-bahan tambah lainnya untuk
mencapai performa beton yang diinginkan.
Material
semen, walaupun dalam beton digunakan sekitar 7%-15%, ternyata untuk
menghasilkan semen digunakan energi yang cukup besar dan limbah yang melimpah
juga, sehingga akan sangat berpengaruh pada kondisi lingkungan.
Hasil
kajian Neville, Davidovits dan Mehta,
yang berkaitan dengan pengaruh penggunaan semen terhadap lingkungan, terdapat
beberapa kelemahan yakni : (1) kurang efisien dalam pemakaian bahan mentah/raw
material, karena dalam pembuatan 1 ton klinker
OPC dibutuhkan ± 1.7 ton raw material, (2) kebutuhan energi yang besar
(dibutuhkan pemanasan pada tungku pembakar hingga ± 1450OC) untuk mendapatkan klinker, (3) kurang ramah lingkungan
karena produksinya mengeluarkan emisi gas CO2 yang besar (produksi 1 ton
klinker OPC menghasilkan 1 ton CO2), (4) memiliki kerentanan yang tinggi
terhadap masalah durabilitas/ketahanan karena produk hidrasi semen OPC
menghasilkan mineral Ca(OH)2 yang mudah terlarut, dan (5) harga semakin mahal.
Sedangkan
penggunaan material agregat kerikil dan pasir, yang merupakan bahan penyusun
utama beton, sekitar 80%, apabila penambangannya tidak terkendali dan
serampangan, tentu akan menimbulkan degradasi lingkungan yang cukup besar.
Oleh
karena itu, saat ini perlu dipikirkan penggunaan material penyusun beton yang
dibuat dengan konsep ramah lingkungan. Atau diupayakan material lain yang
mempunyai karakteristik, performa dan
kekuatan yang menyamai material beton tapi juga ramah lingkungan.
Menurut
The Institution of Structural
Engineers/ISE, 1999, pembuatan material penyusun beton yang ramah
lingkungan ini dapat dilakukan dengan mewujudkan 3 (tiga) usaha kelangsungan
dan konservasi lingkungan, yaitu: (1) pengurangan emisi gas rumah kaca
(terbesar adalah CO2), (2) efisiensi energi dan material dasar, (3) penggunaan material buangan/waste, dan
dan (4) pengurangan efek yang mengganggu kesehatan/keselamatan pada pengguna
konstruksi, baik yang timbul selama proses konstruksi ataupun yang timbul
selama operasi bangunan, dengan menggunakan Konsep 4R (Reduce, Refurbish, Reuse
and Recycle).
Material
beton yang bahan bakunya memenuhi karakteristik tersebut dapat dikatakan
sebagai material beton yang ramah lingkungan (green concrete) ataupun yang
lebih ramah lingkungan (greener concrete).
Setiap
material yang bersumber dari alam mempunyai profil ekologis masing-masing, dari
saat pengambilan di alam hingga digunakan dan perawatannya. Profil ekologis ini
akan sangat menentukan apakah material tersebut dalam katergori ramah
lingkungan atau tidak. Beberapa parameter profil ekologis adalah apakah
material tersebut berdampak pada pengundulan hutan (deforestation), mereduksi
sumber daya tanah, konsumsi energinya, konsumsi airnya dan besar kecilnya
limbah yang dihasilkan.
Dari
gambaran di atas, ternyata memang material beton masih mempunyai profil
ekologis yang dapat mengancam lingkungan. Sehingga diperlukan upaya-upaya nyata
untuk mengembangkan beton yang ramah lingkungan.
Diantara
upaya itu adalah dengan mereduksi penggunaan semen sebagai bahan pengikat
beton, dengan melakukan pengkajian dan pemanfaatan material lain seperti fly
ash, hulk ash, abu ampas tebu, metakaolin, silika fume sebagai pozzolan yang
dapat mengurangi sebagian penggunaan semen. Mengembangkan rancang campur beton
mutu tinggi, penggunaan material daur ulang, material buatan dan limbah
industri seperti tailing, bottom ash, feronikel dan gelas sebagai agregat.
Saat
ini juga telah dikembangkan bacteria-based self healing concrete atau beton
yang dapat memperbaiki sendiri dengan memanfaatkan bakteri, dan material pengganti
semen sebagai bahan dasar pengikat beton seperti alkali activated material dan
geopolymer yakni material yang dibentuk dengan menggunakan aktivasi alkali pada
material dasar yang kaya silika-alumina sebagai precursor.
Banyak
produk beton yang terdiri dari berbagai material salah satunya Hebel. Produk
Hebel tidak mengandung bahan-bahan yang beracun maupun berbahaya. Material yang
digunakan tidak dapat dijadikan tempat tinggal bagi kutu atau serangga dan
hewan sejenis lainnya. Dan massa yang rendah mengakibatkan energi bunyi yang
memantul dan merayap di permukaan beton ringan Hebel tidak diteruskan dengan
baik. Sehingga dinding dapat meredam kebisingan dan kenyamanan penghuni
terjaga.
Keberlanjutan
teknologi beton tidak lepas dari upaya mengedepankan potensi lokal untuk
kepentingan kemajuan ilmu dan teknologi serta pencapaian kesejahteraan. Potensi
lokal yang sangat berperan dalam teknologi beton adalah material lokal yang
dalam hal ini berarti diproduksi di dalam negeri, berasal dari dalam negeri,
serta memiliki kandungan material yang berasal dari negeri. Potensi material
lokal selayaknya terus digali dan ditingkatkan agar lebih berdaya bagi
masyarakat luas. Untuk memperoleh teknologi beton ramah lingkungan yang
berkelanjutan, maka rangkaian penelitian dalam Hibah Kompetensi dilakukan
dengan juga mengedepankan pemanfaatan material lokal.
Pembangunan
berkelanjutan adalah bentuk gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang
bertanggung jawab pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, berkaitan
erat dengan lingkungan ( Environmental
sustainable ), ekonomi ( economic
sustainable ) dan social ( social
sustainable ). Melakukan prinsip-prinsip Sustainable design dan continuously
construction dengan memperhatikan low-impact
materials,energy efficiency, quality and durability, design for reuse and
recycling, biomimicry, service substitution dan renewability.
Keterpaduan
dalam menggunakan sumber daya alam dan buatan dengan menitikberatkan pada
perlindungan konstruksi berkelanjutan dan pencegahan dampak negatip terhadap
lingkungan merupakan tanggung jawab pelaku-pelaku dunia industri pembangunan,
juga sebagai manusia yang bertanggung jawab pada penggunaan sumber daya alam. Pembangunan
berkelanjutan juga tidak cukup hanya sustain, tapi juga harus improving (
Roseland- Sustainable communities ).
Sumber
:
- http://eprints.unsri.ac.id/127/1/Pages_from_PROSIDING_AVOER_2011-22.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar